Slider

Cara Beternak Sapi Friesian Holstein

 


Sapi perah memiliki beragam jenis dengan beragam ciri-ciri dan cara penanganan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dengan beragam jenis ini, masing-masing jenis sapi perah memiliki keunggulan tersendiri yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan atau modal dari peternak sebelum memutuskan jenis mana yang akan diternakkan.

Sapi perah Friesian Holstein atau sapi FH adalah salah satu jenis yang paling banyak digunakan sebagai sapi perah di Indonesia. Sapi jenis ini dapat dikatakan sebagai jenis unggulan dari semua jenis sapi perah lainnya.

Sapi dengan warna tubuh didominasi oleh warna hitam dan putih ini banyak dipilih sebagai sapi perah karena kualitas produknya yang baik serta cara penanganan yang cukup mudah. Nah, sebelum Anda memutuskan memilih sapi Friesian Holstein sebagai ternak sapi perah, ada baiknya untuk mengetahui hal-hal berikut.

Apa saja? Yuk, simak penjelasan artikel di bawah ini!

Apa Itu Sapi Friesian Holstein?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sapi perah Friesian Holstein atau dengan nama lain yakni sapi Fries Hollands menjadi jenis sapi perah yang memiliki kemampuan produksi susu yang tinggi. Hal ini menjadi faktor kunci mengapa sapi FH dikenal sebagai sapi perah unggulan dan banyak diternakkan.

Sapi Friesian Holstein berasal dari Provinsi North Holland dan West Friesland, Belanda. Di negara asalnya, sapi FH diternakkan dalam suhu kurang dari 22 derajat Celcius. Sapi FH termasuk dalam jenis Bos Taurus.

Jenis sapi perah ini pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1891 hingga 1893 dimana pada saat itu berada dalam komando pemerintah Hindia Belanda. Masuknya jenis sapi Friesian Holstein ke Indonesia memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas dari sapi perah lokal atau sapi asli Indonesia.

Sapi Friesian Holstein murni sudah banyak ditemukan di kawasan jawa Barat sejak tahun 1990, yakni tersebar di kawasan Lembang dan Cisarua, Bandung. Dari kedua daerah ini, sapi Friesian Holstein kemudian tersebar ke beberapa kawasan di area Jawa Barat.

Ciri-Ciri Sapi Friesian Holstein

Sapi Friesian Holstein memiliki beberapa ciri-ciri yang sangat khas, antara lain:

  • Warna bulu didominasi hitam dengan bercak putih
  • Ada bentuk mirip segitiga di daerah dahi berwarna hitam dan putih
  • Bagian dada, perut bagian bawah, serta ekor berwarna putih
  • Bentuk kepala besar dan sempit
  • Memiliki tanduk pendek yang menjurus ke depan
  • Memiliki ambing besar
  • Tergolong jinak dan tenang, mudah dikuasai
  • Tidak tahan dengan suhu panas
  • Bentuk tubuh luas ke belakang

Di Indonesia, sapi Friesian Holstein bisa menghasilkan sekitar 20 liter susu per hari, dengan rata-rata produksi susu sebanyak 10 liter per hari, atau setara dengan 3.050 kilogram dalam 1 kali masa laktasi. Sapi FH jantan bisa mencapai bobot 1.000 kilogram, sedangkan sapi FH betina memiliki bobot ideal yakni 635 kilogram.

Saat lahir, anakan sapi Friesian Holstein cenderung lebih besar dibandingkan jenis sapi lainnya, yakni dengan bobot tubuh mencapai 43 hingga 48 kilogram.

Cara Beternak Sapi Friesian Holstein

Hal yang harus diperhatikan saat melakukan bisnis ternak sapi perah Friesian Holstein adalah sapi dara atau heifer. Sapi perah dara yang menjadi pengganti sapi indukan atau replacement stock yang biasanya diganti setiap tahunnya. Penggantian atau culling dapat mencapai presentase 25% dari total populasi.

Dengan presentase tersebut, maka dapat disesuaikan jumlah induk yang akan di culling dan ditambah dengan jumlah kemungkinan kematian yang dapat terjadi. Sapi FH dara adalah perkembangan lanjutan dari pedet atau anakan yang berusia antara 13 minggu hingga 2 tahun. Sapi FH dara ini berada di fase masa lepas sapih dan belum pernah beranak.


Fase perawatan sapi FH dara dapat menjadi salah satu metode bisnis peternakan sapi perah yang menguntungkan. Pemeliharaan dan perawatan yang baik pada sapi perah dara dapat berdampak pada kualitas sapi perah dewasa. Dimana pada fase produktif dapat memproduksi susu dalam jumlah banyak dan berkualitas baik.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemeliharaan sapi perah dara. Antara lain jenis atau bangsa sapi, ukuran saat lahir, pertumbuhan dari lahir hingga mencapai usia 6 bulan, pakan yang dikonsumsi, situasi dan kondisi induk saat hamil, serta pengaruh lingkungan kandang.

Ada baiknya memilih sapi dara Friesian Holstein yang dalam masa pertumbuhan melalui proses penyapihan setelah usia anakan. Setelah proses sapih, ternak dapat dikenalkan dengan pakan dan pemberian air susu dihentikan secara bertahap. Pedet atau anakan masuk ke fase menyapih di usia 3 hingga 4 bulan, atau berat badan ternak sudah mencapai 150 kilogram.

Untuk mendapatkan sapi dara FH yang berkualitas unggulan, ternak harus mempunyai nafsu makan yang kuat dan rumen yang sehat. Pemberian pakan ini bisa berdampak pada kualitas tubuh ternak serta berpengaruh pada birahi ternak. Jika proses pemberian pakan berjalan dengan baik, birahi pertama sapi dara FH akan terlihat di usia 9 hingga 10 bulan.

Sapi dara dikatakan sudah siap dikawinkan apabila sudah berusia 15 bulan dengan bobot berkisar di 350 kilogram. Adapun tanda-tanda yang terlihat dari sapi dara yang sedang birahi yakni kelamin yang merah, membengkak, mengeluarkan lendir atau slem, selera makan yang rendah, mulai gelisah, serta mulai menaiki temannya atau jika dinaiki akan diam.

Adapun hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan sapi Friesian Holstein antara lain:

1# Pemberian Minum

Minum untuk ternak sapi FH ada baiknya tidak dibatasi atau ad libitum. Minum juga harus tersedia saat pemberian pakan. Hal ini dikarenakan oleh pemberian pakan kering yang akan membuat ternak memiliki keinginan untuk minum.

2# Pemberian Pakan

Pakan untuk ternak sapi FH yakni terdiri dai bahan hijauan sebanyak 60%. Pakan hijauan antara lain padi, rumput gajah, rumput raja atau rumput benggala, daun kacang-kacangan, daun ubi, lamtoro dan pucuk daun tebu. Sedangkan pakan konsentrat sebanyak 40% dapat diberikan dua kali setiap hari, yakni pada pagi dan sore hari.

Porsi pakan hijauan haruslah yang bersih dan berkualitas baik, diberikan 7 kg/ekor/hari dan dapat ditambah secara bertahap hingga 25 kg/ekor/hari saat mencapai usia 12 bulan ata 10% dari total berat badan.

Pakan konsentrat mengandung TDN 75% sebanyak 1,5 kg/ekor/hari dan PK sebanyak 16%. Untuk TDN dapat meningkat sebanyak 2 kg/ekor/hari setelah mencapai usia 12 bulan.

Sapi dara FH yang berusia 6 bulan ke atas sudah bisa mencerna bahan makanan dengan serat kasar tinggi. Hal ini dikarenakan daya pencernaan yang sudah sempurna. Makanan yang diberikan dapat tersusun dari pakan hijauan sebanyak 20 kg/ekor/hari dengan kandungan 12 hingga 13% protein kasar.

3# Sistem Perkawinan Ternak

Sapi Friesian Holstein dikatakan siap kawin jika mencapai usia 15 hingga 18 bulan dengan bobot rata-rata sebanyak 300 kilogram. Penghitungan ini berdasarkan pada sistem pakan dan bobot ideal, sehingga sapi dapat diperkirakan beranak di usia 28 hingga 30 bulan. Sapi FH yang terlalu cepat dikawinkan dengan kondisi tubuh lebih kecil dapat berdampak pada kesulitan melahirkan, produk susu yang terlalu rendah, hingga kemandulan.

Masa birahi sapi berlangsung cukup cepat, maka dari itu sangat penting untuk mengetahui ciri-ciri ternak yang sudah mengalami masa birahi. Adapun dua cara perkawinan yang dapat dilakukan adalah:

  1. Perkawinan Alami, dengan pejantan yang langsung memancarkan sperma ke dalam alat reproduksi betina.
  2. Perkawinan Buatan – Inseminasi Buatan atau Artificial Insemination (AI), yakni dengan memasukkan sperma jantan ke dalam saluran reproduksi betina menggunakan bantuan peralatan khusus.

No comments

Post a Comment

DON'T MISS

Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube
© all rights reserved
i want my journey to be full of laughter