Slider

Fattening pada Sapi, Apa Itu?

 


Dalam suasana Ramadahan seperti sekarang ini, kebutuhan pasar akan daging ternak sangat melonjak pesat. Baik daging ayam, daging kambing, hingga daging sapi. Hal ini dikarenakan tradisi masyarakat Indonesia yang menghidangkan berbagai makanan khas bulan Ramadhan selama satu bulan penuh, termasuk saat Idul Fitri atau Hari Raya.

Permintaan pasar yang meningkat pesat terkadang menimbulkan kekhawatiran tersendiri mengenai jumlah pasokan daging yang semakin menipis di pasaran. Tidak imbangnya permintaan dengan ketersediaan ini membuat harga daging ternak ikut merangkak naik dan terjadi ketidakseimbangan di pasar.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menggenjot persediaan daging ternak di pasaran dengan menghimbau para peternak untuk memaksimalkan produk dari ternak mereka. Guna memenuhi kebutuhan pasar, para peternak kemudian melakukan program penggemukan ternak, khususnya pada sapi.

Penggemukan atau fattening pada ternak sapi ini dapat dilakukan sendiri oleh pemilik peternakan atau menggunakan jasa penggemukan sapi yang sangat mudah ditemukan sekarang ini. Namun, sebelum melakukan penggemukan atau fattening pada sapi, ada baiknya Anda membaca informasi mengenai fattening ini.

Apa saja? Yuk, simak penjelasan di bawah ini!

Apa Itu Fattening?

Fattening atau program penggemukan ternak sapi potong merupakan kegiatan yang memaksimalkan potensi genetik pada ternak untuk mendapatkan pertambahan berat atau bobot badan ternak yang efisien. Fattening ini menggunakan input pakan dan sarana produksi lainnya untuk mendapatkan hasil yang maksimal, yakni nilai tambah usaha yang ekonomis.

Tujuan dari program penggemukan ternak sapi potong ini adalah untuk meningkatkan produksi daging per satuan ekor, meningkatkan angka penawaran daging dengan efisien tanpa memotong sapi lebih banyak, menghindari pemotongan sapi betina yang berada dalam umur produktif, serta menanggulangi populasi ternak sapi potong yang kian menurun akibat pemotongan dan pemenuhan kebutuhan pasar.

Selain bertujuan untuk memaksimalkan potensi ekonomis dan kualitas daging dari ternak sapi potong, proses penggemukan ini juga memberi pengaruh yang baik pada nilai pupuk kandang yang dihasilkan oleh ternak sapi.

Sebelum melakukan program penggemukan atau fattening, ada beberapa hal yang harus diperhatikan guna mendapatkan hasil yang maksimal. Antara lain:

  1. Pemilihan bibit atau bakalan ternak.
  2. Sistem penggemukan yang akan digunakan.
  3. Pakan ternak dan cara pemberian pakan.
  4. Penyediaan kandang ternak.
  5. Pengendalian dan pencegahan penyakit pada ternak.
  6. Manajemen Penggemukan atau Fattening Ternak Sapi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa untuk melakukan fattening pada ternak sapi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Misalnya teknik pemberian pakan atau ransum ke ternak, luas lahan yang tersedia untuk kandang dan lingkungan tempat tinggal ternak, umur dan kondisi ternak yang hendak melakukan fattening, dan lama proses penggemukan.

Untuk melakukan fattening, ada beberapa metode yang dapat digunakan atau diterapkan pada ternak sapi. Yakni dry lot fattening, pasture fattening, kombinasi dari keduanya, dan sistem kereman atau sistem paron asal Timor. Dry lot fattening, pasture fattening, serta kombinasi dari keduanya merupakan sistem penggemukan modern asal luar negeri. Sedangkan sistem kereman merupakan sistem penggemukan asli Indonesia.

Dry Lot Fattening

Metode pertama yang dapat digunakan yakni dry lot fattening. Metode atau sistem penggemukan ini dilakukan dengan pemberian pakan atau ransum kepada ternak yang didominasi dengan biji-bijian dalam komposisi nya. Seperti sorgum, jagung, dan jenis kacang-kacangan lainnya.

Seiring berjalannya waktu, sistem dry lot fattening tidak hanya mengandalkan biji-bijian dalam komposisi pakan atau ransum, namun dibentuk dalam satu formulasi dari berbagai jenis bahan pakan konsentrat. Bahan-bahan tersebut antara lain bungkil kelapa, dedak padi, jagung giling, polar, ampas tahu dan bungkil kelapa sawit. Juga ditambahkan mineral dan garam dapur untuk membuat konsentrat utuh yang baik untuk pertumbuhan bobot ternak sapi.


Bakalan atau anakan ternak sapi jantan yang akan melakukan program dry lot fattening harus berusia 1 tahun. Ternak yang dalam masa fattening akan dipelihara di dalam kandang sepanjang hari sementara kebutuhan pakan dan minum ternak akan disediakan oleh peternak secara teratur agar ternak tidak perlu keluar kandang. Maka dari itu, pemilik peternakan harus memperhatikan betul persediaan pakan dan minum ternak.

Di sisi lain, bakalan yang hendak digemukkan namun masih berusia 6 hingga 8 bulan, harus diberi pakan ransum konsentrat dalam jumlah yang rendah. Jumlah pemberian ransum dapat bertambah seiring berjalannya waktu, hingga sebanyak yang bisa dihabiskan oleh ternak sapi. Pemberian ransum atau pakan konsentrat harus dilakukan sejak 4 hingga 5 bulan sebelum proses penggemukan dimulai.

Sistem dry lot fattening memudahkan peternak untuk mengontrol dan mengawasi pemberian pakan tiap harinya sehingga penggunaan dan pemberian pakan akan lebih efisien. Perlu diperhatikan bahwa proses fattening ini sangat bergantung pada peternak, oleh karena itu perlu adanya pengawasan dan kontrol ketat dari peternak.

Tujuan Dry Lot Fattening

Adapun penggunaan metode ini memiliki tujuan menghasilkan baby beef, young beef, serta veal.

Baby Beef

Kondisi dimana ternak sapi potong diberi pakan berkualitas tinggi, yakni sejak anakan atau pedet masih menyusu pada induk. Ternak kemudian ditempatkan dalam kandang individu yang terpisah dari sapi-sapi lain dan kemudian dipelihara hingga ternak sapi mencapai usia 10 hingga 15 bulan. Baru setelah itu sapi dapat dipotong untuk diambil dagingnya.

Young Beef

Yakni ternak sapi potong yang melakukan proses yang serupa dengan baby beef, namun yang membedakan adalah young beef baru dipotong untuk diambil dagingnya di usia dewasa, yakni antara usia 1,5 hingga 2 tahun.

Veal

Adalah sapi potong yang merupakan bakalan sapi perah Friesian Holland atau sapi FH yang telah melakukan proses penggemukan sejak lahir dengan diberikan jenis pakan khusus. Seperti susu skim yang diberi tambahan konsentrat. Veal ini kemudian akan dipotong untuk diambil dagingnya setelah mencapai usia 3 bulan, atau lebih muda dari jenis baby beef dan young beef.

Sistem Kereman atau Sistem Paron

Yakni sistem penggemukan sapi yang dinilai paling efisien, dimana ternak sapi dikurung atau dipelihara did alam kandang sepanjang hari. Sistem penggemukan ini sudah banyak digunakan pleh peternak di kawasan Provinsi Jambi, terutama di wilayah yang memiliki ketersediaan hijauan yang cukup dan dekat dengan pasar.

Adapun cara penggemukan sapi potong dengan sistem kereman adalah:

  1. Ternak sapi dipelihara di dalam kandang secara terus-menerus dan tidak digembalakan atau keluar dari kandang. Waktu keluar hanya pada saat kandang dibersihkan atau ternak sapi hendak dimandikan oleh peternak.
  2. Seluruh kebutuhan ternak, yakni pakan dan air minum akan disediakan oleh peternak dalam jumlah yang tidak terbatas.
  3. Sistem kereman mengutamakan pemberian pakan dengan komposisi campuran rumput hijauan, leguminosa, dan makanan penguat atau konsentrat.
  4. Sapi yang digemukkan tidak untuk dipekerjakan. Hal ini dimaksudkan agar makanan yang dikonsumsi ternak dapat berubah menjadi daging dan lemak pada ternak, sehingga peningkatan berat atau bobot ternak dapat optimal dan maksimal.
  5. Di awal proses penggemukan, ternak sapi akan diberi obat cacing.
  6. Guna meningkatkan nafsu makan atau palatabilitas, diberikan perangsang nafsu makan serta vitamin sebagai pelengkap.
  7. Sistem kereman memerlukan waktu 4 hingga 10 bulan agar hasil yang didapat maksimal dan optimal. Hal ini juga bergantung pada kondisi awa dan bobot sapi yang hendak digemukkan.

No comments

Post a Comment

DON'T MISS

Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube
© all rights reserved
i want my journey to be full of laughter